Total Tayangan Laman

PANDANGAN ALKITAB AL-QURAN TENTANG PENCIPTAAN MANUSIA


PANDANGAN  ALKITAB TENTANG PENCIPTAAN MANUSIA
Alkitab menjelaskan bahwa Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya ini terdapat dalam kitab kejadian 2:7, ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia bukan berada dengan sendirinya, melainkan bahwa ada yang menciptakannya yaitu Tuhan Allah sendiri. Tuhan Allah lah yang menciptakan manusia, yang semula belum ada sehingga menjadi ada. Jadi adanya manusia karena kehendak Allah (kejadian 1:26  yang menyebutkan hal putusan Tuhan Allah untuk menciptakan manusia) manusia bukanlah keturunan Tuhan Allah, ia juga bukan mengalir keluar dari pada diri Allah tetapi ia diciptakan oleh Allah.
Dari kejadian 1:26 kitadapat mengetahuai bahwa cara tuhan allah  menjadikan atau mencipatakan  manusia berbeda sekali dengan cara-caranya ia menciptakan mahluk-makhluk yang lain. Atas pertimbangan Allah yang bulat  dan bijaksana, atas putusan kehendaknya yang bebas, manusia diciptakan.manusia bukan dilahirkan oleh allah secara biologis, juga dialirkan dari dzat ilahi, seperti sungai mengalir dari sumbernya, juaga bukan kepingan yang terpisah daripada Allah atau percikan yang dipercikan dari Allah. Manusia adalah makhluk dalam artian yang sebenarnya, yang adanya karena diciptakan oleh Tuhan Allah. Manusia adalah hasil karya Allah, yang keadaannya berlainan sekali dengan Tuhan Allah yang menciptakaannya.
Beberapa argumentasi yang membuktikan penciptaan manusia oleh Allah adalah:
a.       Adam dan Hawa diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. Jika Allah tidak menghembuskan nafas kedalam diri Adam dan Hawa, pastilah mereka berupa makhluk-makhluk jantan dan betina. Akan tetapi alkitab dengan tegas mengatakan bahwa Allah menciptakan mereka sebagai laki-laki dan perempuan (kejadian 1:27, 2:7, Matius 19:4)
b.      Hawa diciptakan Langsung oleh Allah. Hawa diciptakan dari tulang rusuk adam (Kejadian 2:21-22, 1 Korintus 11:8). Jika Adam dibentuk langsung oleh Allah pastilah Hawa juga langsung diciptakan oleh Allah.  
c.       Manusia berasal dari debu dan kembali kepada debu. Bila debu (Kejadian 2:7) ditafsirkan sebagai manusia telah berkembang dari binatang, maka istilah kembali menjadi debu (Kejadian 3:19) seharusnya diganti menjadi binatang lagi. Akan tetapi Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa manusia itudari debu dan akan kembali kepada debu.
d.      Alkitab membedakan antara daging manusia dan daging binatang(1 Korintus 15:39).

1.    PANDANGAN ALKITAB TENTANG STRUKTUR MANUSIA
Secara umum manusia itu penya sifat-sifat jasmani dan rohani. Sifat jasmani manusia ialah tubuh sedangkan sifat rohaninya ialah jiwa dan roh. Sedangkan secara khusus, sebenarnya struktur manusia itu terdiri atas empat unsur:
a.       Nyawa atau jiwa, yaitu diri atau kepribadian manusia.
b.      Roh, yaitu kemempauan manusia untuk bekerjasama dengan Allah.
c.       Daging, yaitu kemampuan manusia bekerjasama dengan iblis.
d.      Tubuh, yaitu bentu bagi nyawa atau jiwa manusia.
Tetapi masalahnya kini ialah apakah manusia itu mahluk rangkap dua ataukah rangkap tiga? Apakah jiwa dan roh itu sama atau berbeda?  Mereka yang beranggapan bahwa manusia itu hanya terdiri atas tubuh dan jiwa saja (jiwa dan ruh dipandang sama atau satu hakikat) disebut golongan dikotomi sedangkan mereka yang percaya bahwa manusia itu terdiri atas tubuh, jiwa dan roh (jiwa dan roh dipandang berbeda disebut golongan trikotomi.

2.        HAKIKAT  MANUSIA MENURUT ALKITAB
Alkitab melihat manusia dari segi keagamaan, dalam hubungannya dengan Tuhan Allah. Sekalipun pandagan yang demikian dimiliki juga oleh agama Islam, namun pandangan alkitab tidak sama dengan pandangan Islam. Kejadian 1:26 mengatakan bahwa Tuhan menjadikan manusia menurut gambar dan rupanya. Dan tuhan Allah memang menciptakan manusia yang demikian itu.
Berdasarkan pernyataan dalam Kejadian  5:1, 9:6; Yak. 3:9 dan 1 Kor 11:7 yang mengatakan manusia adalah gambar Allah dan bahwa dilain pihak Ef. 4:24 dan Kol. 3:10 mengatakan bahwa manusia berdosa perlu diperbaharui untuk menjadi segambar dengan allah, orang berpendapat bahwa ungkapan gambar Allah didalam alkitab dibagi dalam dua arti. Pertama ada gambar Allah yang tetap dimiliki manusia setelah ia jatuh dalam dosa, sebab ayat-ayat di Kej. 5:1, 9:6; Yak. 3:9 dan 1 kor 11:7 itu diterapkan pada manusia yang telah jatuh kedalam dosa. Selanjutnya ada gambar Allah yang telah hilang karena dosa, sebab Ef. 4 :24 dan kol 3:10 menyebutkan, bahwa manusia harus diperbaharui supaya menjadi serupa dengan Allah.[1]
Dr. H. Bavinck menyebutkan gambar Allah yang masih dimiliki manusia setelah ia jatuh kedalam dosa itu gambar Allah dalam arti yang lebih luas dan gambar Allah yang hilang karena dosa disebutnya gambar Allah dalam arti yang sempit. Yang termasuk gambar Allah dalam arti yang luas adalah: peri kemanusiaan yaitu keadaan manusia sebagai manusia, yang membedakan manusia daripada binatang dan makhluk-makhluk lainnya, yaitu bahwa manusia memiliki akal budi dan kehendak. Yang termasuk gambar Allah  dalam arti yang sempitadalah apa yang menjadikan manusia serupa  dengan Allah atau dengan kehendak Allah yaitu: hikmat atau makrifat, kebenaran dan kekudusan dengan ini manusia dapat bersekutu dengan Tuhan Allah. Maksud pembedaan yang demikian adalah untuk menunjukkan bahwa manusia sekalipun berdosa tidak sama dengan binatang atau iblis, sebab ia tetap yang memiliki perikemanusiaan.   


[1] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta:Gunung Mulia, 1999),.189-190